Tinggi Sama Rendah

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Hai hai...

Selamat datang di blog saya yang simple ini....

Ok, di postingan saya yang kedua ini bakal bahsa tentang Tinggi sama Rendah. Bahasan apa sih ini sebnernya???

Kita mulai ya, kita buka dengan satu pepatah yakni "Berdiri sama rendah, duduk sama tinggi" , emang bunyinya begitu ya? Anggap ajalah bunyinya seperti itu...hehehe..

Ya, apa sih makna dari pepatah diatas? kurang lebih sih, pepatah tersebut ceritain kalau kita semua ini sebernya sejajar. Ga lebih tinggi ataupun lebih rendah. Peribahasa diatas mengakatan kalau kita tuh sejajar baik dari segi hal maupun kewajiban. Ibaratnya semua manusia tuh punya hak yang sama, ini fitrah manusia loh ya... tanpa memandang jabatan, suku, ras atau apapun itu.

Terkadang ada rasa miris, kita sesama manusia tidak bisa menghargai manusia yang lainnya. Tidak mampu memahami, maupun saling mengerti satu sama lain. Beberapa kali, saya naik angkutan umum yang isinya penuh sesak dan berdesakkan. Suatu saat, ada seorang tua, kakek-kakek yang berdiri di angkutan umum tersebut bersanggahkan tongkat yang menyangga tubuhnya. Mungkin umurnya sudah menyentuh 80 tahunan jika dilihat dari fisiknya, tapi apa yang terjadi? Seakan-akan info kursi prioritas hanya sekedar tempelan saja. Banyak badan sehat, bugar dan masih muda memilih untuk duduk, pura-pura tidak peduli terhadap kakek tersebut. Terbesit satu pertanyaan, apakah rasa menghargai manusia sudah hilang? atau memang sifat manusia harusnya seperti itu?

Entahlah....memang tidak semua orang bisa dipukul rata mempunyai sifat seperti itu, tapi setidaknya itu adalah cerminan yang terjadi saat ini. Masih banyak kasus lain atau kejadian lain yang menunjukkan antar manusia itu berbeda. Padahal, kita tahu sendiri Kalau manusia itu semua sama yang berbeda adalah ketaqwaan dan kepatuhannya terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala.

Erdogan, p=Presiden Turki pernah berkata "Hanya perlu menjadi manusia untuk dapat peduli dengan sesama". Lantas manusia yang mana yang sudah tidak bisa menghargai orang lain. Kadang, kita merasa seseorang tidak bersahabat dengan kita atau tidak ramah dengan, harusnya kita balik tanya diri kita sendiri sudah bersahabat belum kita dengan orang tersebut? Dengan mudahnya, kita meremehkan orang lain, yang status jabatannya lebih rendah, atau kemampuan yang dia miliki kalah dengan kita, dan lain sebagainya. Kita lebih sering mengejek, dan merendahkan dibanding merangkul untuk mengajak maju bersama.

Manusia yang asalnya dari tanah, memanglah harusnya memiliki sifat yang rendah. Tapi dengan "Topeng" ideologis atau berprinsip justru ke arah sombong, keras kepala dan juga angkuh. Hanya untuk mengucapkan kata "Maaf" maupun "Terima Kasih" sungguh begitu sulit. Kita yang muslim mempunyai prinsip ukhuwah tertinggi yaitu 'itsar(Mendahulukan orang lain daripada diri sendiri) setelah Takaful (Saling menanggung beban). Seperti layaknya persahabatn antara Salman Al Farisi dan Abu dardak yang begitu indah untuk dikenang sampai saat ini. Tak ada yang salah ketika mengambil posisi rendah, jadilah pribadi yang rendah hati bukan rendah diri.

Written on December 5, 2017